we love simplicity

we love simplicity

Senin, 01 Februari 2016

DUKA MENJADI MARKETING BANK

Duka menjadi marketing bank

Hai! Selamat malam! Tidak nyangka aku bakalan nulis artikel ini. Sama sekali nggak nyangka. Dulu di awal tahun 2015 saat aku ditawari menjadi marketing oleh atasan di bank tempat aku bekerja, aku sering sekali search artikel untuk memotivasi diri – karena menjadi marketing itu berat. BERAT. Awalnya yah, seperti orang-orang pada umumnya, aku berpikir marketing adalah pekerjaan yang baik. Karirnya jelas. Penghasilan lebih banyak. Kenal dengan semua orang. Populer. Siapa sih yang nggak mau? Semua orang mau dong karir yang cemerlang, penghasilan 2 digit bahkan sampai 3 digit per bulan, kenal dengan bos-bos hebat dan kalo nikah atau ngerayain sesuatu papan bunga yang lo dapatin panjang banget, plus hemat uang makan (di Pekanbaru, ada kebiasaan aneh dimana saat bertemu di tempat makan atau sekedar minum di kedai kopi, bos-bos pasti bayarin muka yang dia kenal). Nah, makanya lohh kuterima tawaran menjadi marketing dan aku sempat kayak kena gempa gumi. Jadi marketing itu susah banget ternyata.

Buat beberapa orang menjadi marketing mungkin mudah, mereka punya mulut yang sangat manis, mereka punya muka yang sangat tebal, mereka punya nyali yang sangat besar dan yang terutama adalah mereka sangat cinta uang (sehingga bersedia melakukan apa saja, termasuk menjadi marketing). Tapi, buat banyak orang, menjadi marketing itu adalah hal yang berat. Dan tidak terkecuali buat aku.

Di awal mula menjadi marketing, dengan basic sebagai staf analisa kredit yang notabene duduk di belakang komputer dan ngomelin marketing karena data yang tidak lengkap atau proposal yang kurang mantap, aku merasakan perubahan drastis. Aku harus menghadapi nasabah yang kupikir menjadi sumber dari segala ketidakadilan ini (tanpa pernah berpikir bahwa sebenarnya uang dialah yang membayar gajiku dan harusnya aku ikhlas dengan apa yang kujalani, karena sudah tugasku untuk itu). Aku harus datang menjumpai mereka dan kadang dimarahi, kadang diomeli, kadang diceramahi dan kadang dicueki. Pernah sekali aku menjumpai nasabah dan dia membiarkan aku berdiri sambil menunjuk kertas dan menyuruhku untuk menuliskan apa saja syarat yang harus dia lengkapi. Aku merasa seperti kacung, seperti babu, seperti pesuruh. Kenapa aku harus diperlakukan begini? Buat apa sih titlenya orang bank kalo kerjaannya begini? Aku merasa rendah dan menahan diri untuk tidak menangis di hadapan nasabah tersebut. Begitu sampai di kantor, aku menangis sesorean. Hhhhh, ini kisah nyata lohh. (dan anehnya, setelah hampir 1 tahun berkenalan dengan nasabah ini, aku menjadi sangat dekat dengan dia. Kalo jumpa, justru saking dekatnya kami nggak cerita bisnis lagi melainkan cerita keluarga.)

Nah, sebagai marketing aku sudah tahu apa yang harus kuminta ke debitur tapi aku sulit untuk meminta ke debitur. Kebanyakan debitur selalu memiliki seribu satu alasan dan satu ancaman legendaris “Lunasin ajalah kreditnya! Ribet banget! And bla bla bla!”

Hhhhhhh, aku sudah mendengar kalimat ini sampai bosan dan muak dan bertanya-tanya ‘kapan sih lo benaran lunas, wahai debitur?”

Yah, kalo kamu masih menjalani program MMDP atau MT yang kerjaannya wajib nyari nasabah, mungkin hal ini belum terasa. Tapi begitu dapetin akun maintain, siap-siaplah. Setiap kali perpanjangan fasilitas atau monitoring dan kita diwajibkan melampirkan beberapa data atau ada ketentuan bank yang berubah, pasti nasabahnya mencak panjang lebar.

Kalimat legendaris satu lagi “Ih, dulu jaman si A nggak begini. Semuanya mudah, nggak repot. Ilmunya jago. Kalian ini sudah nggak semantap dulu.” ‘Sir, peraturan perbankan berubah lohh. Celanamu yang dulu longgar saja bisa keketatan karena kamu tambah gendut karena bisnismu tambah baik, gimana aturan bank nggak boleh jadi lebih ketat?’

Kalo kamu merasa ingin menyerah atau capek atau lelah atau bosan atau tidak ingin mencoba lagi, well itu hak mu. Nggak semua orang bisa menahan tekanan dan perasaan rendah yang setiap kali muncul sewaktu berurusan dengan nasabah. Itu kenyataannya.

Aku sendiri sudah sering sekali menyesal atas pilihan yang kuambil, atas pekerjaan yang kupilih dan atas tekanan yang kurasakan. Aku sering menangis, aku sering merasa malu, aku sering dipermalukan, aku sering merasa rendah, aku sering merasa bodoh, aku sering merasa muak, aku sering merasa Tuhan sangat tidak adil.

Jadi, hei, kamu yang sedang membaca artikel ini, bukan kamu sendiri yang merasakannya. Semua orang merasakan hal itu. Nggak ada satu orangpun yang sewaktu memulai awal langsung bisa jadi hero. Kamu harus lalui penderitaan yang membuatmu ingin berhenti sajalah, bahkan kalau bisa kamupun memilih tidak makan daripada menjalani hidup seperti itu terus menerus.

Tapi, aku juga nggak boleh bercerita dari satu sudut pandang saja bukan? Aku harus akui bagaimana pekerjaan ini memberi semacam pride (rasa bangga) karena aku kenal dengan bos looh, aku berteman BBM dengan mereka, aku bicara dengan orang-orang yang bahkan nggak mau menyapa teman-teman operasional. Aku juga belajar banyak mengenai orang, bagaimana karakter mereka (walau sampai sekarang aku masih harus belajar banyak untuk masalah karakter ini). Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah aku pijak sebelumnya. Aku pernah masuk ke kebun kelapa sawit yang letaknya 2 jam dari kota, atau kebun yang letaknya 5 jam dari kota. Aku pernah. Aku pernah mijak tanah kebun sawit dari gambut dan tanah mineral. Aku pernah naik motor ninja tipe ramping mengelilingi kebun sawit dan lahannya naik turun. Kebayang perasaanku takut tergelincir? Aku pernah masuk ke semak belukar sampai kelingkingku yang entah menyentuh apa (aku nggak ingat kena apa si jari kelingking ini) sampai gatal 2 mingguan dan berbintil-bintil kecil. Aku pernah nyelonong masuk ke ruko yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengambil foto dari agunan nasabah. Dan yang tergila adalah aku pernah mengikuti sidang pengadilan di luar kota atas kasus hukum yang melilit nasabah.

Wahh, banyak sekali hal-hal yang aku lihat dan aku temui dan aku nggak bisa dapatkan itu kalo aku nggak jadi marketing. Jadi, saat semua berjalan on the track, aku tidak menyesal. Aku senang aku memilih pekerjaan ini. Aku senang sekali. Bahkan saat pekerjaan sangat banyak, aku rela lembur sampai jam 9-an (normalnya pulang sewaktu jadi staf analis itu jam 5 teng) dan duduk sendirian di ruangan kami yang terkenal seram. Aku bisa lakukan hal itu karena aku sangat suka dengan apa yang kukerjakan.

Gimana nggak? Aku bertemu orang. Aku bicara dengan mereka. Pengalaman mereka selama belasan hingga puluhan tahun dishare begitu saja gratis. Aku belajar mengenai usaha mereka. Aku belajar mengenai strategi mereka. Aku belajar bagaimana harus bersikap. Dan darimana dapatin hal-hal ini di luar sana? Nggak ada.

Nah, sekarang aku sedang berhadapan dengan sisi berat lainnya dari pekerjaan marketing bank. Aku pindah ke bank lain dan sekarang dipush soal target. Stress free sepertinya adalah mimpi yang mustahil.

Aku sudah menangis di hari ke-23 dan kupikir lagi itu adalah pertanda baik. Setidaknya aku nggak nangis di hari pertama, ya kan?

Aku benci dengan pekerjaanku. Aku harus mengejar nasabah dan kali ini nasabah yang sama sekali tidak aku kenal. Aku harus tebal muka masuk ke toko mereka atau menelepon dan ditolak mentah-mentah. Aku harus membaca kembali sms yang kukirim untuk bertanya apakah ada kesalahan yang aku lakukan hingga mereka nggak membalas sms-ku? Aku nggak terbiasa dengan kondisi ini. Kalo di tempat lama, dengan jumlah akun maintain yang lumayan, aku nggak mengalami hal ini.

Aku sempat capek, tertekan, muak, marah. Apalagi tempat baru punya sistem pengawasan terhadap marketing yang ketat. Laporan wajib rutin, 2 call/visit per hari. Harus canvassing kalo nggak punya database. Harus submit satu proposal tiap minggu. Harus disburse 2 kali tiap bulan. WTF? Apa-apaan itu?

Sekarang aku masih tertekan dan memutuskan untuk resign saja. Aku melempem. Seperti quotes dari salah satu buku marketing yang aku punya : ‘Penyakit marketing gagal : 3M -> malas, malu, memble’

Aku masih berjuang untuk mengatasi hal ini dan kamu yang lagi baca artikel ini, kamu nggak sendiri. Kita struggle bersama.


Pekanbaru, 01 Februari 2016

3 komentar:

  1. Halo mba gmn kabar mba skrng? Kalau boleh tau marketing bank itu ada apa aja ya? Kebetulan saia dpt panggilan tpi masih bimbang.. Mungkin bsa berbagi sdikit pengetahuanya mksh.

    BalasHapus
  2. (yg butuh pasang WIFI area Surabaya & Sidoarjo)
    Bisa hubungi saya di
    085955239791
    Isom MNCplay

    BalasHapus
  3. Semangat yah mba, saya sedang merasakan di posisi ma sekarang 😂

    BalasHapus