Duka menjadi marketing bank
Hai! Selamat malam!
Tidak nyangka aku bakalan nulis artikel ini. Sama sekali nggak nyangka. Dulu di
awal tahun 2015 saat aku ditawari menjadi marketing oleh atasan di bank tempat
aku bekerja, aku sering sekali search artikel untuk memotivasi diri – karena menjadi
marketing itu berat. BERAT. Awalnya yah, seperti orang-orang pada umumnya, aku
berpikir marketing adalah pekerjaan yang baik. Karirnya jelas. Penghasilan lebih
banyak. Kenal dengan semua orang. Populer. Siapa sih yang nggak mau? Semua
orang mau dong karir yang cemerlang, penghasilan 2 digit bahkan sampai 3 digit
per bulan, kenal dengan bos-bos hebat dan kalo nikah atau ngerayain sesuatu
papan bunga yang lo dapatin panjang banget, plus hemat uang makan (di Pekanbaru,
ada kebiasaan aneh dimana saat bertemu di tempat makan atau sekedar minum di
kedai kopi, bos-bos pasti bayarin muka yang dia kenal). Nah, makanya lohh
kuterima tawaran menjadi marketing dan aku sempat kayak kena gempa gumi. Jadi marketing
itu susah banget ternyata.
Buat beberapa orang
menjadi marketing mungkin mudah, mereka punya mulut yang sangat manis, mereka
punya muka yang sangat tebal, mereka punya nyali yang sangat besar dan yang
terutama adalah mereka sangat cinta uang (sehingga bersedia melakukan apa saja,
termasuk menjadi marketing). Tapi, buat banyak orang, menjadi marketing itu
adalah hal yang berat. Dan tidak terkecuali buat aku.
Di awal mula menjadi
marketing, dengan basic sebagai staf analisa kredit yang notabene duduk di
belakang komputer dan ngomelin marketing karena data yang tidak lengkap atau
proposal yang kurang mantap, aku merasakan perubahan drastis. Aku harus
menghadapi nasabah yang kupikir menjadi sumber dari segala ketidakadilan ini
(tanpa pernah berpikir bahwa sebenarnya uang dialah yang membayar gajiku dan
harusnya aku ikhlas dengan apa yang kujalani, karena sudah tugasku untuk itu).
Aku harus datang menjumpai mereka dan kadang dimarahi, kadang diomeli, kadang
diceramahi dan kadang dicueki. Pernah sekali aku menjumpai nasabah dan dia
membiarkan aku berdiri sambil menunjuk kertas dan menyuruhku untuk menuliskan
apa saja syarat yang harus dia lengkapi. Aku merasa seperti kacung, seperti
babu, seperti pesuruh. Kenapa aku harus diperlakukan begini? Buat apa sih
titlenya orang bank kalo kerjaannya begini? Aku merasa rendah dan menahan diri
untuk tidak menangis di hadapan nasabah tersebut. Begitu sampai di kantor, aku
menangis sesorean. Hhhhh, ini kisah nyata lohh. (dan anehnya, setelah hampir 1 tahun berkenalan dengan nasabah ini, aku
menjadi sangat dekat dengan dia. Kalo jumpa, justru saking dekatnya kami nggak
cerita bisnis lagi melainkan cerita keluarga.)
Nah, sebagai marketing
aku sudah tahu apa yang harus kuminta ke debitur tapi aku sulit untuk meminta
ke debitur. Kebanyakan debitur selalu memiliki seribu satu alasan dan satu
ancaman legendaris “Lunasin ajalah
kreditnya! Ribet banget! And bla bla bla!”
Hhhhhhh, aku sudah
mendengar kalimat ini sampai bosan dan muak dan bertanya-tanya ‘kapan sih lo
benaran lunas, wahai debitur?”
Yah, kalo kamu masih
menjalani program MMDP atau MT yang kerjaannya wajib nyari nasabah, mungkin hal
ini belum terasa. Tapi begitu dapetin akun maintain, siap-siaplah. Setiap kali
perpanjangan fasilitas atau monitoring dan kita diwajibkan melampirkan beberapa
data atau ada ketentuan bank yang berubah, pasti nasabahnya mencak panjang
lebar.
Kalimat legendaris
satu lagi “Ih, dulu jaman si A nggak
begini. Semuanya mudah, nggak repot. Ilmunya jago. Kalian ini sudah nggak
semantap dulu.” ‘Sir, peraturan
perbankan berubah lohh. Celanamu yang dulu longgar saja bisa keketatan karena
kamu tambah gendut karena bisnismu tambah baik, gimana aturan bank nggak boleh
jadi lebih ketat?’
Kalo kamu merasa ingin
menyerah atau capek atau lelah atau bosan atau tidak ingin mencoba lagi, well
itu hak mu. Nggak semua orang bisa menahan tekanan dan perasaan rendah yang
setiap kali muncul sewaktu berurusan dengan nasabah. Itu kenyataannya.
Aku sendiri sudah
sering sekali menyesal atas pilihan yang kuambil, atas pekerjaan yang kupilih
dan atas tekanan yang kurasakan. Aku sering menangis, aku sering merasa malu,
aku sering dipermalukan, aku sering merasa rendah, aku sering merasa bodoh, aku
sering merasa muak, aku sering merasa Tuhan sangat tidak adil.
Jadi, hei, kamu yang
sedang membaca artikel ini, bukan kamu sendiri yang merasakannya. Semua orang
merasakan hal itu. Nggak ada satu orangpun yang sewaktu memulai awal langsung
bisa jadi hero. Kamu harus lalui penderitaan yang membuatmu ingin berhenti
sajalah, bahkan kalau bisa kamupun memilih tidak makan daripada menjalani hidup
seperti itu terus menerus.
Tapi, aku juga nggak
boleh bercerita dari satu sudut pandang saja bukan? Aku harus akui bagaimana
pekerjaan ini memberi semacam pride (rasa bangga) karena aku kenal dengan bos
looh, aku berteman BBM dengan mereka, aku bicara dengan orang-orang yang bahkan
nggak mau menyapa teman-teman operasional. Aku juga belajar banyak mengenai
orang, bagaimana karakter mereka (walau sampai sekarang aku masih harus belajar
banyak untuk masalah karakter ini). Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang tidak
pernah aku pijak sebelumnya. Aku pernah masuk ke kebun kelapa sawit yang
letaknya 2 jam dari kota, atau kebun yang letaknya 5 jam dari kota. Aku pernah.
Aku pernah mijak tanah kebun sawit dari gambut dan tanah mineral. Aku pernah
naik motor ninja tipe ramping mengelilingi kebun sawit dan lahannya naik turun.
Kebayang perasaanku takut tergelincir? Aku pernah masuk ke semak belukar sampai
kelingkingku yang entah menyentuh apa (aku nggak ingat kena apa si jari
kelingking ini) sampai gatal 2 mingguan dan berbintil-bintil kecil. Aku pernah
nyelonong masuk ke ruko yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengambil
foto dari agunan nasabah. Dan yang tergila adalah aku pernah mengikuti sidang
pengadilan di luar kota atas kasus hukum yang melilit nasabah.
Wahh, banyak sekali
hal-hal yang aku lihat dan aku temui dan aku nggak bisa dapatkan itu kalo aku
nggak jadi marketing. Jadi, saat semua berjalan on the track, aku tidak
menyesal. Aku senang aku memilih pekerjaan ini. Aku senang sekali. Bahkan saat
pekerjaan sangat banyak, aku rela lembur sampai jam 9-an (normalnya pulang
sewaktu jadi staf analis itu jam 5 teng) dan duduk sendirian di ruangan kami
yang terkenal seram. Aku bisa lakukan hal itu karena aku sangat suka dengan apa
yang kukerjakan.
Gimana nggak? Aku
bertemu orang. Aku bicara dengan mereka. Pengalaman mereka selama belasan
hingga puluhan tahun dishare begitu saja gratis. Aku belajar mengenai usaha
mereka. Aku belajar mengenai strategi mereka. Aku belajar bagaimana harus
bersikap. Dan darimana dapatin hal-hal ini di luar sana? Nggak ada.
Nah, sekarang aku
sedang berhadapan dengan sisi berat lainnya dari pekerjaan marketing bank. Aku
pindah ke bank lain dan sekarang dipush soal target. Stress free sepertinya
adalah mimpi yang mustahil.
Aku sudah menangis di
hari ke-23 dan kupikir lagi itu adalah pertanda baik. Setidaknya aku nggak
nangis di hari pertama, ya kan?
Aku benci dengan
pekerjaanku. Aku harus mengejar nasabah dan kali ini nasabah yang sama sekali
tidak aku kenal. Aku harus tebal muka masuk ke toko mereka atau menelepon dan
ditolak mentah-mentah. Aku harus membaca kembali sms yang kukirim untuk
bertanya apakah ada kesalahan yang aku lakukan hingga mereka nggak membalas
sms-ku? Aku nggak terbiasa dengan kondisi ini. Kalo di tempat lama, dengan
jumlah akun maintain yang lumayan, aku nggak mengalami hal ini.
Aku sempat capek,
tertekan, muak, marah. Apalagi tempat baru punya sistem pengawasan terhadap
marketing yang ketat. Laporan wajib rutin, 2 call/visit per hari. Harus canvassing
kalo nggak punya database. Harus submit satu proposal tiap minggu. Harus disburse
2 kali tiap bulan. WTF? Apa-apaan itu?
Sekarang aku masih
tertekan dan memutuskan untuk resign saja. Aku melempem. Seperti quotes dari
salah satu buku marketing yang aku punya : ‘Penyakit marketing gagal : 3M ->
malas, malu, memble’
Aku masih berjuang
untuk mengatasi hal ini dan kamu yang lagi baca artikel ini, kamu nggak
sendiri. Kita struggle bersama.
Pekanbaru, 01 Februari
2016
Halo mba gmn kabar mba skrng? Kalau boleh tau marketing bank itu ada apa aja ya? Kebetulan saia dpt panggilan tpi masih bimbang.. Mungkin bsa berbagi sdikit pengetahuanya mksh.
BalasHapus(yg butuh pasang WIFI area Surabaya & Sidoarjo)
BalasHapusBisa hubungi saya di
085955239791
Isom MNCplay
Semangat yah mba, saya sedang merasakan di posisi ma sekarang 😂
BalasHapus