Hai! Selamat malam!
Kali ini judul dari
post aku sepertinya super banget yah! Mengalah bukan berarti kalah!
Aku sendiri sebenarnya
nggak punya niat untuk menulis hal ini, semuanya terjadi begitu saja. Aku
bersama adikku ribut, seperti biasa. Jadi dia matiin tivi dengan remote tv
kabel saja. Otomatis, tv masih menyala dan warna layarnya biru. Dengan warna
layar biru tentu saja mengganggu pandanganku + uang listrik jalan terus.
Sebenarnya aku udah sebel, sudah kuomongin baik-baik. ‘Lu matiin jangan cuman
remote doang. Listrik mesti bayar!’
Eh, dengan remehnya
dia bilang, ‘Nggak, gua matiin remote ajah biar lu gerak dikit!’
Duh, emang dasarnya
aku orang yang gampang emosi, tentu saja emosiku tersulut. Bahkan sambil menuliskan
post ini aku masih memendam amarah yang besar lohh. Aku nggak habis pikir
dengan tipe orang yang begini.
Ini
rumah yang kita tinggali bersama. Kamu lakukan sesuatu yang lebih dari biasanya
juga buat keluargamu sendiri kan? Kenapa sih nggak ada keinginan untuk berbuat
lebih atau setidaknya lu selesaikan saja, apa yang sedang lu kerjain.
Duh, aku awalnya
biarin saja. Aku termasuk orang yang keras dan tipe-tipe yang kalo berantem
dengan orang, sebelum orang itu nyapa aku nggak bakalan nyapa balik. Dalam kondisi
apapun.
Tapi, come on! Umur sudah nambah setahun loh
sebulan yang lalu. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menahan ego dan
berbuat sesuatu. Finally, aku
akhirnya mencabut kabel tivi itu. Duh, nggak penting sekali yah. Jadi seperti
curhat ala-ala abg gitu yahh.
Nah, aku membuat post
ini hanya sekedar ngasih contoh remeh yang ternyata bisa menghancurkan kita
loh, kalo nggak berhati-hati. Kebencian itu racun. Dan awalnya memang sewaktu
mencabut kabel, rasanya seperti aku kalah. Aku mengalah.
Tapi apa aku
benar-benar kalah?
Pikir-pikir dengan
logika tentu aku adalah pemenang. Klise emang, tapi orang yang berhasil mengontrol ego (mengontrol
emosi) dan mengedepankan hal lain dibanding emosi itu adalah pemenang. Who overcome his feelings is the winner, right?
 |
| source : pinterest.com |
Apa gunanya
berlarut-larut dengan ego? Aku nggak dapatin apapun selain kesenangan karena
aku PIKIR AKU MENANG. Padahal
sebenarnya aku kalah lebih banyak, mesti keluarin uang buat listrik dari hal
yang nggak ngasih manfaat buat aku, plus aku nggak grow up.
Jadi, semalam
ceritanya temanku yang orang asuransi datang ke rumah dan nawarin program
proteksi untuk emakku. Dan sebagai orang asuransi yang benaran fokus di
asuransi Pru, dia banyak sharing soal
pengalamannya. Dia datang barengan dengan sodaraku yang ternyata sodaranya dia.
So, temanku adalah sodara jauhku.
Tapi, bukan itu poinnya. Sodaraku yang biasa kerja kantoran dan duduk di
belakang meja dan hanya berurusan dengan teman-teman sekantornya, sudah ikut
menjadi agen asuransi.
Dia bercerita
bagaimana, sewaktu awal memulai proses itu dia yang awalnya berniat menawarkan
produk ke salah satu toko akhirnya malah membeli barang dari toko itu. Bahkan
nggak jadi jualan. Whoa, itu persis yang aku rasakan saat aku pertama kali
melakukan canvassing (terkait dengan
pekerjaanku sebagai marketing bank dan artikelnya dukanya jadi marketing bank
ada di sini). Aku masuk
ke toko dan belanja air minum, pulang dengan tangan hampa. Kenal juga nggak,
disenyumin juga nggak, dikasih kata ‘thanks’
pun nggak. Nasibbb.
 |
| source : pinterest.com |
Nah, dari cerita itu,
sodaraku ini pun cerita bagaimana sebenarnya jadi marketing itu adalah to overcome our ego. Kita ini sebenarnya
orang biasa, pengen dihargai, pengen dihormati, pengen disegani, nggak pengen
minta-minta, nggak pengen ngemis-ngemis. Apalagi kalo udah terbiasa kerja
kantoran yah, yang notabene orang banyakan butuh kita. Mereka yang butuh
sesuatu dari kita pasti memperlakukan kita dengan baik, ngomongnya baik dan
santun. Kalo agak kasar, kita bisa kasarin balik. Nothing to lose. Toh, banyakan juga sama-sama pegawai. Nah, sebagai
marketing lu nggak bisa lakukan hal itu. Customernya kabur.
Jadi, kalo kita
diperlakukan kayak kain pel, yah sudah. Kalo diperlakukan buruk, ya sudah. LEGOWO lah. Ada cerita dari senior di
bank, ‘kalo canvassing lah, ditolak udah
biasa, dimaki udah biasa, dihina pernah, diusir pun pernah’. Lah, bayangin
lohh. Kalo kita nggak siap mental yah pasti menyerah setelah itu. Tapi, sebenarnya,
apakah ditolak menunjukkan kalo kita adalah manusia grade KW 2? Apakah diusir menunjukkan kalo kita adalah manusia grade
KW 3? Nggak loh. Diperlakukan
buruk nggak mengubah siapa kita sebenarnya, asalkan kita bisa mengatasinya.
 |
| source : pinterest.com |
Yah, nggak setiap hari
cerah dong. Pasti ada hujan. Nggak setiap kali canvassing ditolak dong! Pasti ada yang nerima walopun nggak jadi. That’s ok! Itu proses. Yang penting
selalu usaha. Dan cara untuk tetap usaha adalah nggak membiarkan perasaan
negatif yang timbul karena ditolak itu menentukan langkah kita.
Atasanku di kantor
selalu ngomelin aku. ‘Kamu itu, setiap kali kusuruh nelpon nasabah banyak
alasan. Takut dia lagi sibuk. Takut dia lagi ada tamu. Takut dia lagi tidur.
Pernah nggak berpikir kalo dia sebenarnya nggak sibuk, dan ini adalah
kesempatanmu untuk masuk dan kenalan dengan dia?’
Dan memang benar, karena
aku selalu mikir negatif akan ditolak dan berpikir rendah sekali aku yah, hidup
kok begini? Kemana-mana ditolak? Padahal aku nggak jelek lohh, tapi aku harus
jalan di jalanan kayak tukang semir (demi canvassing).
Apa sih hidup kayak gini? Semuanya masuk ke kepalaku dan membuat aku makin
nggak pede, makin down. (Padahal kalo dipikir pake akal sehat, aku
baik-baik saja. Pulang dari canvassing
aku ketemu dengan teman sekantor yang supportif dan asyik. Aku berteman dengan
orang-orang yang jauh lebih tua dari aku tapi kami berteman seperti nggak ada gap. Aku bertemu dengan tim terbaik yang pernah
aku jumpai seumur hidupku. Nggak ada tim lain yang sekeren ini. Semuanya saling
dukung, nggak saling jatuhin. Kenapa aku fokus berpikir hidupku rendah dan
bla-bla-bla, padahal sebenarnya aku dikelilingi rekan kerja terbaik?)
Tapi apa hasil dari
semua pikiran negatif yang bikin aku makin down
itu? Nggak ada. Kalo lu sudah down
dan nggak ada orang di sekitarmu yang selamatin, lu pasti tenggelam. Perasaan itu
kayak pasir hisap. Sekali kakimu masuk ke sana, makin lu pengen keluar makin lu
tenggelam. Nah, inilah gunanya kita berteman, karena di saat-saat kita hancur
mereka ada dan membantu. Mereka menghibur dan menyemangati kita untuk mencoba
lagi.
 |
| source : pinterest.com |
Kalo kamu masih bisa
bangkit, kamu akan sadar. ‘Aku ternyata
hebat yah. Aku mencoba walaupun sering gagal. Aku tetap mencoba.’ Ternyata kamu
hebat. Kamu bisa mengalahkan perasaan negatif itu. Ujung-ujungnya kamu sudah
legowo. Apapun perlakuan orang ke kamu
nggak menentukan siapa kamu. It define them, not you.
See? Ternyata semuanya
masalah ego. Kalo kamu bisa menaklukkan egomu, bisa tetap memandang dirimu
sebagai seseorang yang kuat dan bijak, kamu sudah menang. Jadi, temanku yang
agen asuransi itu sharing tentang
motivasinya untuk menjadi agen. Pastinya untuk mengcover kebutuhan finansialnya, tapi alasan kenapa dia menekuni karir
sebagai agen adalah untuk membantu orang lain. Dengan menjadi agen asuransi,
dia bisa mengajak orang-orang untuk melindungi masa depan mereka. Kebayang yah,
kita sebagai kaum pekerja, bekerja di usia produktif untuk membeli banyak aset.
Nah, di satu titik waktu masa produktif itu habis, dimana penyakit mengintai,
kalo kita nggak siap, aset itu bakalan ludes. Tapi, dengan asuransi – semoga
yah, kita bisa terlindungi dan hal itu nggak terjadi.
Aku mendengarnya
sambil merasa takjub. Terlepas dari pikiran negatif orang akan agen asuransi,
kupikir kalo kamu bisa menemukan agen yang semangatnya positif seperti temanku
ini, ternyata agen asuransi itu adalah teman lohh. Dan temanku sudah cukup
bijak untuk tahu mengenai nilai dari pekerjaannya. Jadi, begitu ditolak dia
masih bisa mengatasinya dan move on,
nyari calon prospek yang lain. Dia tahu dia sedang mencoba membantu orang lain
dan kalo orang lain nggak mau, berarti belom jodoh.
He
overcome his ego. What about me? I’m still learning.
What
about you? You’re still learning too.
Let’s overcome our
ego, buddy!
Selamat malam dengan
senyum lebar :D :D J
Pekanbaru, 03 Februari
2016 22.47