we love simplicity

we love simplicity

Senin, 23 Mei 2016

Dataku disimpan dimana?

Hai, selamat malam!

Berikut aku akan link beberapa artikel untuk pilihan media penyimpanan digital, dan salah satunya adalah hasil tulisanku. Harapanku sebenarnya banyak yang klik dan baca agar aku menang. Tapi, akan sangat dangkal sekali kalo aku mikir begitu. Jadi, aku mencoba mengubah pola pikir dan meyakinkan diriku sendiri kalo aku mem-post link ini dengan tujuan untuk berbagi.  

Silahkan baca karena aku benar-benar menuliskan media penyimpanan yang sangat umum dan mudah digunakan. Semoga akhirnya artikel ini memberimu referensi mengenai media penyimpanan. Dan ada banyak artikel yang bagus yang bisa membantumu secara spesifik. 

Cheers, - C. 



Jumat, 25 Maret 2016

Mengetahui Windows 32 bit atau 64 bit

Hai!

Sepertinya udah lama banget aku nggak nulis apapun. Dan pagi ini aku berniat untuk men-scan semua data-data pribadiku. Untuk dokumentasi.

Pas pula di laptop yang sedang kupake saat ini nggak ada driver printernya. Argh!!!
Akhirnya harus mencari driver yang tepat untuk Canon MP 287 yang kupake.

Setelah dapat link-nya, mesti cari tahu windows bit berapa? 32 atau 64?

Yah! Ternyata aku pun nggak tahu gimana caranya. Bersyukur ada banyak artikel yang muncul walaupun cuman 1 yang benar-benar bermanfaat untuk aku. Makanya aku mikir WHAT?!

Then, ini link nya : ARMADITA

Super mudah, plus ada gambar yang bikin kita lebih paham.

Selamat menggunakan.

:) happy weekend - C.N

Rabu, 03 Februari 2016

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH


Hai! Selamat malam!

Kali ini judul dari post aku sepertinya super banget yah! Mengalah bukan berarti kalah!

Aku sendiri sebenarnya nggak punya niat untuk menulis hal ini, semuanya terjadi begitu saja. Aku bersama adikku ribut, seperti biasa. Jadi dia matiin tivi dengan remote tv kabel saja. Otomatis, tv masih menyala dan warna layarnya biru. Dengan warna layar biru tentu saja mengganggu pandanganku + uang listrik jalan terus. Sebenarnya aku udah sebel, sudah kuomongin baik-baik. ‘Lu matiin jangan cuman remote doang. Listrik mesti bayar!’

Eh, dengan remehnya dia bilang, ‘Nggak, gua matiin remote ajah biar lu gerak dikit!’

Duh, emang dasarnya aku orang yang gampang emosi, tentu saja emosiku tersulut. Bahkan sambil menuliskan post ini aku masih memendam amarah yang besar lohh. Aku nggak habis pikir dengan tipe orang yang begini.

Ini rumah yang kita tinggali bersama. Kamu lakukan sesuatu yang lebih dari biasanya juga buat keluargamu sendiri kan? Kenapa sih nggak ada keinginan untuk berbuat lebih atau setidaknya lu selesaikan saja, apa yang sedang lu kerjain.

Duh, aku awalnya biarin saja. Aku termasuk orang yang keras dan tipe-tipe yang kalo berantem dengan orang, sebelum orang itu nyapa aku nggak bakalan nyapa balik. Dalam kondisi apapun.

Tapi, come on! Umur sudah nambah setahun loh sebulan yang lalu. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menahan ego dan berbuat sesuatu. Finally, aku akhirnya mencabut kabel tivi itu. Duh, nggak penting sekali yah. Jadi seperti curhat ala-ala abg gitu yahh.



Nah, aku membuat post ini hanya sekedar ngasih contoh remeh yang ternyata bisa menghancurkan kita loh, kalo nggak berhati-hati. Kebencian itu racun. Dan awalnya memang sewaktu mencabut kabel, rasanya seperti aku kalah. Aku mengalah.

Tapi apa aku benar-benar kalah?

Pikir-pikir dengan logika tentu aku adalah pemenang. Klise emang, tapi orang yang berhasil mengontrol ego (mengontrol emosi) dan mengedepankan hal lain dibanding emosi itu adalah pemenang. Who overcome his feelings is the winner, right?

source : pinterest.com


Apa gunanya berlarut-larut dengan ego? Aku nggak dapatin apapun selain kesenangan karena aku PIKIR AKU MENANG. Padahal sebenarnya aku kalah lebih banyak, mesti keluarin uang buat listrik dari hal yang nggak ngasih manfaat buat aku, plus aku nggak grow up.

Jadi, semalam ceritanya temanku yang orang asuransi datang ke rumah dan nawarin program proteksi untuk emakku. Dan sebagai orang asuransi yang benaran fokus di asuransi Pru, dia banyak sharing soal pengalamannya. Dia datang barengan dengan sodaraku yang ternyata sodaranya dia. So, temanku adalah sodara jauhku. Tapi, bukan itu poinnya. Sodaraku yang biasa kerja kantoran dan duduk di belakang meja dan hanya berurusan dengan teman-teman sekantornya, sudah ikut menjadi agen asuransi.

Dia bercerita bagaimana, sewaktu awal memulai proses itu dia yang awalnya berniat menawarkan produk ke salah satu toko akhirnya malah membeli barang dari toko itu. Bahkan nggak jadi jualan. Whoa, itu persis yang aku rasakan saat aku pertama kali melakukan canvassing (terkait dengan pekerjaanku sebagai marketing bank dan artikelnya dukanya jadi marketing bank ada di sini). Aku masuk ke toko dan belanja air minum, pulang dengan tangan hampa. Kenal juga nggak, disenyumin juga nggak, dikasih kata ‘thanks’ pun nggak. Nasibbb.

source : pinterest.com


Nah, dari cerita itu, sodaraku ini pun cerita bagaimana sebenarnya jadi marketing itu adalah to overcome our ego. Kita ini sebenarnya orang biasa, pengen dihargai, pengen dihormati, pengen disegani, nggak pengen minta-minta, nggak pengen ngemis-ngemis. Apalagi kalo udah terbiasa kerja kantoran yah, yang notabene orang banyakan butuh kita. Mereka yang butuh sesuatu dari kita pasti memperlakukan kita dengan baik, ngomongnya baik dan santun. Kalo agak kasar, kita bisa kasarin balik. Nothing to lose. Toh, banyakan juga sama-sama pegawai. Nah, sebagai marketing lu nggak bisa lakukan hal itu. Customernya kabur.

Jadi, kalo kita diperlakukan kayak kain pel, yah sudah. Kalo diperlakukan buruk, ya sudah. LEGOWO lah. Ada cerita dari senior di bank, ‘kalo canvassing lah, ditolak udah biasa, dimaki udah biasa, dihina pernah, diusir pun pernah’. Lah, bayangin lohh. Kalo kita nggak siap mental yah pasti menyerah setelah itu. Tapi, sebenarnya, apakah ditolak menunjukkan kalo kita adalah manusia grade KW 2? Apakah diusir menunjukkan kalo kita adalah manusia grade KW 3? Nggak loh. Diperlakukan buruk nggak mengubah siapa kita sebenarnya, asalkan kita bisa mengatasinya.

source : pinterest.com


Yah, nggak setiap hari cerah dong. Pasti ada hujan. Nggak setiap kali canvassing ditolak dong! Pasti ada yang nerima walopun nggak jadi. That’s ok! Itu proses. Yang penting selalu usaha. Dan cara untuk tetap usaha adalah nggak membiarkan perasaan negatif yang timbul karena ditolak itu menentukan langkah kita.

Atasanku di kantor selalu ngomelin aku. ‘Kamu itu, setiap kali kusuruh nelpon nasabah banyak alasan. Takut dia lagi sibuk. Takut dia lagi ada tamu. Takut dia lagi tidur. Pernah nggak berpikir kalo dia sebenarnya nggak sibuk, dan ini adalah kesempatanmu untuk masuk dan kenalan dengan dia?’

Dan memang benar, karena aku selalu mikir negatif akan ditolak dan berpikir rendah sekali aku yah, hidup kok begini? Kemana-mana ditolak? Padahal aku nggak jelek lohh, tapi aku harus jalan di jalanan kayak tukang semir (demi canvassing). Apa sih hidup kayak gini? Semuanya masuk ke kepalaku dan membuat aku makin nggak pede, makin down. (Padahal kalo dipikir pake akal sehat, aku baik-baik saja. Pulang dari canvassing aku ketemu dengan teman sekantor yang supportif dan asyik. Aku berteman dengan orang-orang yang jauh lebih tua dari aku tapi kami berteman seperti nggak ada gap. Aku bertemu dengan tim terbaik yang pernah aku jumpai seumur hidupku. Nggak ada tim lain yang sekeren ini. Semuanya saling dukung, nggak saling jatuhin. Kenapa aku fokus berpikir hidupku rendah dan bla-bla-bla, padahal sebenarnya aku dikelilingi rekan kerja terbaik?)

Tapi apa hasil dari semua pikiran negatif yang bikin aku makin down itu? Nggak ada. Kalo lu sudah down dan nggak ada orang di sekitarmu yang selamatin, lu pasti tenggelam. Perasaan itu kayak pasir hisap. Sekali kakimu masuk ke sana, makin lu pengen keluar makin lu tenggelam. Nah, inilah gunanya kita berteman, karena di saat-saat kita hancur mereka ada dan membantu. Mereka menghibur dan menyemangati kita untuk mencoba lagi.

source : pinterest.com


Kalo kamu masih bisa bangkit, kamu akan sadar. ‘Aku ternyata hebat yah. Aku mencoba walaupun sering gagal. Aku tetap mencoba.’ Ternyata kamu hebat. Kamu bisa mengalahkan perasaan negatif itu. Ujung-ujungnya kamu sudah legowo. Apapun perlakuan orang ke kamu nggak menentukan siapa kamu. It define them, not you.

See? Ternyata semuanya masalah ego. Kalo kamu bisa menaklukkan egomu, bisa tetap memandang dirimu sebagai seseorang yang kuat dan bijak, kamu sudah menang. Jadi, temanku yang agen asuransi itu sharing tentang motivasinya untuk menjadi agen. Pastinya untuk mengcover kebutuhan finansialnya, tapi alasan kenapa dia menekuni karir sebagai agen adalah untuk membantu orang lain. Dengan menjadi agen asuransi, dia bisa mengajak orang-orang untuk melindungi masa depan mereka. Kebayang yah, kita sebagai kaum pekerja, bekerja di usia produktif untuk membeli banyak aset. Nah, di satu titik waktu masa produktif itu habis, dimana penyakit mengintai, kalo kita nggak siap, aset itu bakalan ludes. Tapi, dengan asuransi – semoga yah, kita bisa terlindungi dan hal itu nggak terjadi.

Aku mendengarnya sambil merasa takjub. Terlepas dari pikiran negatif orang akan agen asuransi, kupikir kalo kamu bisa menemukan agen yang semangatnya positif seperti temanku ini, ternyata agen asuransi itu adalah teman lohh. Dan temanku sudah cukup bijak untuk tahu mengenai nilai dari pekerjaannya. Jadi, begitu ditolak dia masih bisa mengatasinya dan move on, nyari calon prospek yang lain. Dia tahu dia sedang mencoba membantu orang lain dan kalo orang lain nggak mau, berarti belom jodoh.

He overcome his ego. What about me? I’m still learning.

What about you? You’re still learning too.

Let’s overcome our ego, buddy!

Selamat malam dengan senyum lebar :D :D J
Pekanbaru, 03 Februari 2016 22.47




Senin, 01 Februari 2016

Disfungsi klik kanan di blog

Haloo, selamat malam.

Barusan tadi aku ada post artikel soal pengalamanku, curhat mengenai pekerjaanku. Dan kupikir, duh, tulisan ini kayaknya rentan menjadi bahan curian orang lohh. Maaf yahh, nggak bermaksud menyinggung. Tapi beberapa orang suka sekali mengambil hasil karya orang lain tanpa ijin dan tanpa menyertakan link dari sumbernya.

Jadi, kupikir sepertinya aku harus melindungi apa yang aku tulis yah (walopun tulisanku masih mentah banget sihh) J

Di bawah adalah artikel mengenai cara menonaktifkan / disfungsi klik kanan di blog. Dari beberapa artikel yang kubaca, cara ini yang paling mudah. Mudah sekaliii.


Mudah saja, ikuti step by stepnya dan di tulisan warna biru isilah sesuka hati kita. Aku buatnya ‘nggak bisa klik kanan, yah!’
Bisa diganti menjadi ‘no!’ atau ‘jangan copas ya’ atau ‘hargai karya teman’ atau sejenisnya

Selamat mencoba yah! J J


DUKA MENJADI MARKETING BANK

Duka menjadi marketing bank

Hai! Selamat malam! Tidak nyangka aku bakalan nulis artikel ini. Sama sekali nggak nyangka. Dulu di awal tahun 2015 saat aku ditawari menjadi marketing oleh atasan di bank tempat aku bekerja, aku sering sekali search artikel untuk memotivasi diri – karena menjadi marketing itu berat. BERAT. Awalnya yah, seperti orang-orang pada umumnya, aku berpikir marketing adalah pekerjaan yang baik. Karirnya jelas. Penghasilan lebih banyak. Kenal dengan semua orang. Populer. Siapa sih yang nggak mau? Semua orang mau dong karir yang cemerlang, penghasilan 2 digit bahkan sampai 3 digit per bulan, kenal dengan bos-bos hebat dan kalo nikah atau ngerayain sesuatu papan bunga yang lo dapatin panjang banget, plus hemat uang makan (di Pekanbaru, ada kebiasaan aneh dimana saat bertemu di tempat makan atau sekedar minum di kedai kopi, bos-bos pasti bayarin muka yang dia kenal). Nah, makanya lohh kuterima tawaran menjadi marketing dan aku sempat kayak kena gempa gumi. Jadi marketing itu susah banget ternyata.

Buat beberapa orang menjadi marketing mungkin mudah, mereka punya mulut yang sangat manis, mereka punya muka yang sangat tebal, mereka punya nyali yang sangat besar dan yang terutama adalah mereka sangat cinta uang (sehingga bersedia melakukan apa saja, termasuk menjadi marketing). Tapi, buat banyak orang, menjadi marketing itu adalah hal yang berat. Dan tidak terkecuali buat aku.

Di awal mula menjadi marketing, dengan basic sebagai staf analisa kredit yang notabene duduk di belakang komputer dan ngomelin marketing karena data yang tidak lengkap atau proposal yang kurang mantap, aku merasakan perubahan drastis. Aku harus menghadapi nasabah yang kupikir menjadi sumber dari segala ketidakadilan ini (tanpa pernah berpikir bahwa sebenarnya uang dialah yang membayar gajiku dan harusnya aku ikhlas dengan apa yang kujalani, karena sudah tugasku untuk itu). Aku harus datang menjumpai mereka dan kadang dimarahi, kadang diomeli, kadang diceramahi dan kadang dicueki. Pernah sekali aku menjumpai nasabah dan dia membiarkan aku berdiri sambil menunjuk kertas dan menyuruhku untuk menuliskan apa saja syarat yang harus dia lengkapi. Aku merasa seperti kacung, seperti babu, seperti pesuruh. Kenapa aku harus diperlakukan begini? Buat apa sih titlenya orang bank kalo kerjaannya begini? Aku merasa rendah dan menahan diri untuk tidak menangis di hadapan nasabah tersebut. Begitu sampai di kantor, aku menangis sesorean. Hhhhh, ini kisah nyata lohh. (dan anehnya, setelah hampir 1 tahun berkenalan dengan nasabah ini, aku menjadi sangat dekat dengan dia. Kalo jumpa, justru saking dekatnya kami nggak cerita bisnis lagi melainkan cerita keluarga.)

Nah, sebagai marketing aku sudah tahu apa yang harus kuminta ke debitur tapi aku sulit untuk meminta ke debitur. Kebanyakan debitur selalu memiliki seribu satu alasan dan satu ancaman legendaris “Lunasin ajalah kreditnya! Ribet banget! And bla bla bla!”

Hhhhhhh, aku sudah mendengar kalimat ini sampai bosan dan muak dan bertanya-tanya ‘kapan sih lo benaran lunas, wahai debitur?”

Yah, kalo kamu masih menjalani program MMDP atau MT yang kerjaannya wajib nyari nasabah, mungkin hal ini belum terasa. Tapi begitu dapetin akun maintain, siap-siaplah. Setiap kali perpanjangan fasilitas atau monitoring dan kita diwajibkan melampirkan beberapa data atau ada ketentuan bank yang berubah, pasti nasabahnya mencak panjang lebar.

Kalimat legendaris satu lagi “Ih, dulu jaman si A nggak begini. Semuanya mudah, nggak repot. Ilmunya jago. Kalian ini sudah nggak semantap dulu.” ‘Sir, peraturan perbankan berubah lohh. Celanamu yang dulu longgar saja bisa keketatan karena kamu tambah gendut karena bisnismu tambah baik, gimana aturan bank nggak boleh jadi lebih ketat?’

Kalo kamu merasa ingin menyerah atau capek atau lelah atau bosan atau tidak ingin mencoba lagi, well itu hak mu. Nggak semua orang bisa menahan tekanan dan perasaan rendah yang setiap kali muncul sewaktu berurusan dengan nasabah. Itu kenyataannya.

Aku sendiri sudah sering sekali menyesal atas pilihan yang kuambil, atas pekerjaan yang kupilih dan atas tekanan yang kurasakan. Aku sering menangis, aku sering merasa malu, aku sering dipermalukan, aku sering merasa rendah, aku sering merasa bodoh, aku sering merasa muak, aku sering merasa Tuhan sangat tidak adil.

Jadi, hei, kamu yang sedang membaca artikel ini, bukan kamu sendiri yang merasakannya. Semua orang merasakan hal itu. Nggak ada satu orangpun yang sewaktu memulai awal langsung bisa jadi hero. Kamu harus lalui penderitaan yang membuatmu ingin berhenti sajalah, bahkan kalau bisa kamupun memilih tidak makan daripada menjalani hidup seperti itu terus menerus.

Tapi, aku juga nggak boleh bercerita dari satu sudut pandang saja bukan? Aku harus akui bagaimana pekerjaan ini memberi semacam pride (rasa bangga) karena aku kenal dengan bos looh, aku berteman BBM dengan mereka, aku bicara dengan orang-orang yang bahkan nggak mau menyapa teman-teman operasional. Aku juga belajar banyak mengenai orang, bagaimana karakter mereka (walau sampai sekarang aku masih harus belajar banyak untuk masalah karakter ini). Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah aku pijak sebelumnya. Aku pernah masuk ke kebun kelapa sawit yang letaknya 2 jam dari kota, atau kebun yang letaknya 5 jam dari kota. Aku pernah. Aku pernah mijak tanah kebun sawit dari gambut dan tanah mineral. Aku pernah naik motor ninja tipe ramping mengelilingi kebun sawit dan lahannya naik turun. Kebayang perasaanku takut tergelincir? Aku pernah masuk ke semak belukar sampai kelingkingku yang entah menyentuh apa (aku nggak ingat kena apa si jari kelingking ini) sampai gatal 2 mingguan dan berbintil-bintil kecil. Aku pernah nyelonong masuk ke ruko yang sedang dalam tahap pembangunan untuk mengambil foto dari agunan nasabah. Dan yang tergila adalah aku pernah mengikuti sidang pengadilan di luar kota atas kasus hukum yang melilit nasabah.

Wahh, banyak sekali hal-hal yang aku lihat dan aku temui dan aku nggak bisa dapatkan itu kalo aku nggak jadi marketing. Jadi, saat semua berjalan on the track, aku tidak menyesal. Aku senang aku memilih pekerjaan ini. Aku senang sekali. Bahkan saat pekerjaan sangat banyak, aku rela lembur sampai jam 9-an (normalnya pulang sewaktu jadi staf analis itu jam 5 teng) dan duduk sendirian di ruangan kami yang terkenal seram. Aku bisa lakukan hal itu karena aku sangat suka dengan apa yang kukerjakan.

Gimana nggak? Aku bertemu orang. Aku bicara dengan mereka. Pengalaman mereka selama belasan hingga puluhan tahun dishare begitu saja gratis. Aku belajar mengenai usaha mereka. Aku belajar mengenai strategi mereka. Aku belajar bagaimana harus bersikap. Dan darimana dapatin hal-hal ini di luar sana? Nggak ada.

Nah, sekarang aku sedang berhadapan dengan sisi berat lainnya dari pekerjaan marketing bank. Aku pindah ke bank lain dan sekarang dipush soal target. Stress free sepertinya adalah mimpi yang mustahil.

Aku sudah menangis di hari ke-23 dan kupikir lagi itu adalah pertanda baik. Setidaknya aku nggak nangis di hari pertama, ya kan?

Aku benci dengan pekerjaanku. Aku harus mengejar nasabah dan kali ini nasabah yang sama sekali tidak aku kenal. Aku harus tebal muka masuk ke toko mereka atau menelepon dan ditolak mentah-mentah. Aku harus membaca kembali sms yang kukirim untuk bertanya apakah ada kesalahan yang aku lakukan hingga mereka nggak membalas sms-ku? Aku nggak terbiasa dengan kondisi ini. Kalo di tempat lama, dengan jumlah akun maintain yang lumayan, aku nggak mengalami hal ini.

Aku sempat capek, tertekan, muak, marah. Apalagi tempat baru punya sistem pengawasan terhadap marketing yang ketat. Laporan wajib rutin, 2 call/visit per hari. Harus canvassing kalo nggak punya database. Harus submit satu proposal tiap minggu. Harus disburse 2 kali tiap bulan. WTF? Apa-apaan itu?

Sekarang aku masih tertekan dan memutuskan untuk resign saja. Aku melempem. Seperti quotes dari salah satu buku marketing yang aku punya : ‘Penyakit marketing gagal : 3M -> malas, malu, memble’

Aku masih berjuang untuk mengatasi hal ini dan kamu yang lagi baca artikel ini, kamu nggak sendiri. Kita struggle bersama.


Pekanbaru, 01 Februari 2016

Jumat, 29 Januari 2016

MEMBUAT WATERMARK DI FOTO

Hai! Sepertinya hari ini aku produktif sekali yah!

kali ini aku nyari artikel untuk membuat watermark di photo. Harus diakui watermark itu mengganggu banget, lebih enak melihat foto tanpa watermark yang nyemak dan membuat fotonya nggak jelas, cuman di luar sana banyak banget orang nggak bertanggungjawab yang suka mencuri foto.

Aihh, emang kenyataan. Apa salahnya sih kalo mau jualan pake foto yang disediakan suplier? atau foto sendiri? Mungkin dia mau praktis, tapi mencuri tetaplah mencuri.

Enak ajah ngambil foto orang, nggak mikir orang susah payah buat fotoin satu objek. Sejak buat onlineshop sendiri aku baru sadar hal ini. Repot lohh mau gonta ganti baju buat foto dan panas euyy. Belom lagi angle dan pencahayaan mesti tepat. Sering banget foto beda sama kondisi fisik, padahal kita udah susah payah moto naik turun sampai berlutut-lutut segala.

So, please, hargai hasil jerih payah orang. Mencuri foto orang buat jualan nggak bakalan bikin kamu barokah. Apa yang dimulai tidak dengan baik tidak berakhir baik.

Jadi, kenapa aku malah ceramah?

Ini adalah beberapa artikel untuk membuat watermark di foto yahh :

1. Membuat watermark menggunakan Paint

2. Membuat watermark menggunakan Paint 2

3. Membuat watermark menggunakan aplikasi

Selamat menggunakan dan sukses selalu....

Masang iklan di blog

Haloo! Selamat siangg...

Kali ini aku membahas post soal masang iklan di blog. Awal nge-blog pastinya kita pengen share, berbagi ke orang-orang. Banyak hal yang yang bisa kita tulis di blog, macam-macam, mulai dari tips dan trik hingga resep dan opini kita mengenai banyak hal. Tapi, pasti ada juga satu saat dimana kita sendiri balik lagi ke kehidupan nyata dan biasanya kalo berkaitan dengan hidup nyata kita berurusan sama uang.

Aih, emang yah, rasanya baik banget kalo bisa hidup di luar batasan uang. Ngapa-ngapain nggak usah mikirin uang. Tapi, come on! Ini hidup nyata. Orang butuh uang dan harus punya penghasilan sendiri. (maaf kalo agak sarkastik)

So, boleh dong kita numpang dikit di blog yang sudah kita buat selama ini. Lumayan lah buat sarana promosi. Plus it cost no money. Hehehe...

Anyway, sumber nya adalah : membuat iklan banner

Di antara beberapa artikel yang muncul di google search, artikel ini paling sederhana dan nggak ribet. Duh, buat pemula yang kurang paham soal html-html gituan, susah banget ngikutin artikel lain yang ribet banget pas kubaca. Jadi, pas ketemu artikel ini, aihh senang banget. Sesuai dengan keinginanku, masang banner iklan dan nggak susah sama sekali.

Artikelnya ku-copas juga di sini, sekedar memperjelas saja, karena aku juga trial and error pas nyobainnya.

Berikut langkah cara membuat iklan banner pada widget blog :

1. Login akun blogger Anda.
2. Pilih menu tab Tata Letak > Tambahkan Gadget > HTML/JavaScript.
3. Copy paste kode berikut pada gadget HTML/JavaScript. 
<a href='http://id-pemula.blogspot.com/2013/12/peringati-hari-aids-sedunia-2013.html' target='_blank' title='Hari AIDS Sedunia 2013'><img src='https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiswI_nvigp5MCkVHU7SAc8L8eYFlSc7_7pZMhsq0y8_I9J_MWddQeXwDyfQU9IkNeBa3ATsNE09qdLF06osnrj_bU0ybDIDdzx49v3JhwJM-crVCGXU8gdGl1CYbckmiUEXLF08XGGW-x/s1600/AIDS.gif' alt=' Hari AIDS Sedunia 2013' border='0'height='250' width='300'/></a>
Keterangan :
Ganti tulisan yang berwarna merah dengan link/URL tujuan.
Tulisan berwarna biru yaitu link gambar yang akan ditampilkan.
Tulisan yang berwarna hijau keterangan gambar.
Ukuran gambar bisa Anda ganti tulisan yang berwarna kuning height (tinggi) dan width (lebar).
4. Kemudian Simpan.

Okay, sederhana bukan?



1. Yang warna merah itu adalah link yang mau dipost, kalo contohnya aku buat link dengan aku instagram-ku, aku tulisnya begini : https://www.instagram.com/batik_pekanbaru/

2. Yang warna hijau adalah nama yang mau kita cantumkan. Bervariasi, tergantung nama objek promosi atau sesuatu yang menuju ke sana. Aku tulis nya : Batik Wanita Modern

3. Yang warna biru adalah gambar yang mau kita pajang. (karena aku belom jago: saranku lebih baik gambar yang mau dipake itu dipost dulu ke blog, setelah itu open di blog dalam format jpg / gif. Punyaku : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwUBplwAsEACM3Oa6rkbLaAUdxKjeCJ5B7myubZfVCFiRB6zmIbT-kSTj18pTsxUD7V7H52toqpHSGSWVI_C6M7MnICnsYrF4D08ZIEszwnp6EDggh2JG1TdTdIYE2AQiVqPVswNWOOYfG/s1600/screenshot.jpg

Selesai! Mudah kan? Thanks to http://id-pemula.blogspot.co.id/ untuk step by stepnya.

Selamat mencoba yahh!!! :)