we love simplicity

we love simplicity

Rabu, 03 Februari 2016

MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH


Hai! Selamat malam!

Kali ini judul dari post aku sepertinya super banget yah! Mengalah bukan berarti kalah!

Aku sendiri sebenarnya nggak punya niat untuk menulis hal ini, semuanya terjadi begitu saja. Aku bersama adikku ribut, seperti biasa. Jadi dia matiin tivi dengan remote tv kabel saja. Otomatis, tv masih menyala dan warna layarnya biru. Dengan warna layar biru tentu saja mengganggu pandanganku + uang listrik jalan terus. Sebenarnya aku udah sebel, sudah kuomongin baik-baik. ‘Lu matiin jangan cuman remote doang. Listrik mesti bayar!’

Eh, dengan remehnya dia bilang, ‘Nggak, gua matiin remote ajah biar lu gerak dikit!’

Duh, emang dasarnya aku orang yang gampang emosi, tentu saja emosiku tersulut. Bahkan sambil menuliskan post ini aku masih memendam amarah yang besar lohh. Aku nggak habis pikir dengan tipe orang yang begini.

Ini rumah yang kita tinggali bersama. Kamu lakukan sesuatu yang lebih dari biasanya juga buat keluargamu sendiri kan? Kenapa sih nggak ada keinginan untuk berbuat lebih atau setidaknya lu selesaikan saja, apa yang sedang lu kerjain.

Duh, aku awalnya biarin saja. Aku termasuk orang yang keras dan tipe-tipe yang kalo berantem dengan orang, sebelum orang itu nyapa aku nggak bakalan nyapa balik. Dalam kondisi apapun.

Tapi, come on! Umur sudah nambah setahun loh sebulan yang lalu. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menahan ego dan berbuat sesuatu. Finally, aku akhirnya mencabut kabel tivi itu. Duh, nggak penting sekali yah. Jadi seperti curhat ala-ala abg gitu yahh.



Nah, aku membuat post ini hanya sekedar ngasih contoh remeh yang ternyata bisa menghancurkan kita loh, kalo nggak berhati-hati. Kebencian itu racun. Dan awalnya memang sewaktu mencabut kabel, rasanya seperti aku kalah. Aku mengalah.

Tapi apa aku benar-benar kalah?

Pikir-pikir dengan logika tentu aku adalah pemenang. Klise emang, tapi orang yang berhasil mengontrol ego (mengontrol emosi) dan mengedepankan hal lain dibanding emosi itu adalah pemenang. Who overcome his feelings is the winner, right?

source : pinterest.com


Apa gunanya berlarut-larut dengan ego? Aku nggak dapatin apapun selain kesenangan karena aku PIKIR AKU MENANG. Padahal sebenarnya aku kalah lebih banyak, mesti keluarin uang buat listrik dari hal yang nggak ngasih manfaat buat aku, plus aku nggak grow up.

Jadi, semalam ceritanya temanku yang orang asuransi datang ke rumah dan nawarin program proteksi untuk emakku. Dan sebagai orang asuransi yang benaran fokus di asuransi Pru, dia banyak sharing soal pengalamannya. Dia datang barengan dengan sodaraku yang ternyata sodaranya dia. So, temanku adalah sodara jauhku. Tapi, bukan itu poinnya. Sodaraku yang biasa kerja kantoran dan duduk di belakang meja dan hanya berurusan dengan teman-teman sekantornya, sudah ikut menjadi agen asuransi.

Dia bercerita bagaimana, sewaktu awal memulai proses itu dia yang awalnya berniat menawarkan produk ke salah satu toko akhirnya malah membeli barang dari toko itu. Bahkan nggak jadi jualan. Whoa, itu persis yang aku rasakan saat aku pertama kali melakukan canvassing (terkait dengan pekerjaanku sebagai marketing bank dan artikelnya dukanya jadi marketing bank ada di sini). Aku masuk ke toko dan belanja air minum, pulang dengan tangan hampa. Kenal juga nggak, disenyumin juga nggak, dikasih kata ‘thanks’ pun nggak. Nasibbb.

source : pinterest.com


Nah, dari cerita itu, sodaraku ini pun cerita bagaimana sebenarnya jadi marketing itu adalah to overcome our ego. Kita ini sebenarnya orang biasa, pengen dihargai, pengen dihormati, pengen disegani, nggak pengen minta-minta, nggak pengen ngemis-ngemis. Apalagi kalo udah terbiasa kerja kantoran yah, yang notabene orang banyakan butuh kita. Mereka yang butuh sesuatu dari kita pasti memperlakukan kita dengan baik, ngomongnya baik dan santun. Kalo agak kasar, kita bisa kasarin balik. Nothing to lose. Toh, banyakan juga sama-sama pegawai. Nah, sebagai marketing lu nggak bisa lakukan hal itu. Customernya kabur.

Jadi, kalo kita diperlakukan kayak kain pel, yah sudah. Kalo diperlakukan buruk, ya sudah. LEGOWO lah. Ada cerita dari senior di bank, ‘kalo canvassing lah, ditolak udah biasa, dimaki udah biasa, dihina pernah, diusir pun pernah’. Lah, bayangin lohh. Kalo kita nggak siap mental yah pasti menyerah setelah itu. Tapi, sebenarnya, apakah ditolak menunjukkan kalo kita adalah manusia grade KW 2? Apakah diusir menunjukkan kalo kita adalah manusia grade KW 3? Nggak loh. Diperlakukan buruk nggak mengubah siapa kita sebenarnya, asalkan kita bisa mengatasinya.

source : pinterest.com


Yah, nggak setiap hari cerah dong. Pasti ada hujan. Nggak setiap kali canvassing ditolak dong! Pasti ada yang nerima walopun nggak jadi. That’s ok! Itu proses. Yang penting selalu usaha. Dan cara untuk tetap usaha adalah nggak membiarkan perasaan negatif yang timbul karena ditolak itu menentukan langkah kita.

Atasanku di kantor selalu ngomelin aku. ‘Kamu itu, setiap kali kusuruh nelpon nasabah banyak alasan. Takut dia lagi sibuk. Takut dia lagi ada tamu. Takut dia lagi tidur. Pernah nggak berpikir kalo dia sebenarnya nggak sibuk, dan ini adalah kesempatanmu untuk masuk dan kenalan dengan dia?’

Dan memang benar, karena aku selalu mikir negatif akan ditolak dan berpikir rendah sekali aku yah, hidup kok begini? Kemana-mana ditolak? Padahal aku nggak jelek lohh, tapi aku harus jalan di jalanan kayak tukang semir (demi canvassing). Apa sih hidup kayak gini? Semuanya masuk ke kepalaku dan membuat aku makin nggak pede, makin down. (Padahal kalo dipikir pake akal sehat, aku baik-baik saja. Pulang dari canvassing aku ketemu dengan teman sekantor yang supportif dan asyik. Aku berteman dengan orang-orang yang jauh lebih tua dari aku tapi kami berteman seperti nggak ada gap. Aku bertemu dengan tim terbaik yang pernah aku jumpai seumur hidupku. Nggak ada tim lain yang sekeren ini. Semuanya saling dukung, nggak saling jatuhin. Kenapa aku fokus berpikir hidupku rendah dan bla-bla-bla, padahal sebenarnya aku dikelilingi rekan kerja terbaik?)

Tapi apa hasil dari semua pikiran negatif yang bikin aku makin down itu? Nggak ada. Kalo lu sudah down dan nggak ada orang di sekitarmu yang selamatin, lu pasti tenggelam. Perasaan itu kayak pasir hisap. Sekali kakimu masuk ke sana, makin lu pengen keluar makin lu tenggelam. Nah, inilah gunanya kita berteman, karena di saat-saat kita hancur mereka ada dan membantu. Mereka menghibur dan menyemangati kita untuk mencoba lagi.

source : pinterest.com


Kalo kamu masih bisa bangkit, kamu akan sadar. ‘Aku ternyata hebat yah. Aku mencoba walaupun sering gagal. Aku tetap mencoba.’ Ternyata kamu hebat. Kamu bisa mengalahkan perasaan negatif itu. Ujung-ujungnya kamu sudah legowo. Apapun perlakuan orang ke kamu nggak menentukan siapa kamu. It define them, not you.

See? Ternyata semuanya masalah ego. Kalo kamu bisa menaklukkan egomu, bisa tetap memandang dirimu sebagai seseorang yang kuat dan bijak, kamu sudah menang. Jadi, temanku yang agen asuransi itu sharing tentang motivasinya untuk menjadi agen. Pastinya untuk mengcover kebutuhan finansialnya, tapi alasan kenapa dia menekuni karir sebagai agen adalah untuk membantu orang lain. Dengan menjadi agen asuransi, dia bisa mengajak orang-orang untuk melindungi masa depan mereka. Kebayang yah, kita sebagai kaum pekerja, bekerja di usia produktif untuk membeli banyak aset. Nah, di satu titik waktu masa produktif itu habis, dimana penyakit mengintai, kalo kita nggak siap, aset itu bakalan ludes. Tapi, dengan asuransi – semoga yah, kita bisa terlindungi dan hal itu nggak terjadi.

Aku mendengarnya sambil merasa takjub. Terlepas dari pikiran negatif orang akan agen asuransi, kupikir kalo kamu bisa menemukan agen yang semangatnya positif seperti temanku ini, ternyata agen asuransi itu adalah teman lohh. Dan temanku sudah cukup bijak untuk tahu mengenai nilai dari pekerjaannya. Jadi, begitu ditolak dia masih bisa mengatasinya dan move on, nyari calon prospek yang lain. Dia tahu dia sedang mencoba membantu orang lain dan kalo orang lain nggak mau, berarti belom jodoh.

He overcome his ego. What about me? I’m still learning.

What about you? You’re still learning too.

Let’s overcome our ego, buddy!

Selamat malam dengan senyum lebar :D :D J
Pekanbaru, 03 Februari 2016 22.47




Tidak ada komentar:

Posting Komentar