19 Juli 2015
Saya
berubah pikiran soal blog yang saya buat ini. Konsepnya saya ubah total. Saya mau
blog ini menyajikan highlight dari
berita yang terjadi dalam satu hari di Indonesia.
Dan
langsung saja
1.
Erupsi
gunung, 3 gunung di 3 lokasi berbeda menunjukkan aktivitas abu vulkanik yang
tinggi. Sinabung di Sumatera Utara, Gamalama di Maluku Utara dan Raung di Jawa
Timur. Banyak warga mengungsi dan penerbangan terancam batal.
2.
Pembunuhan
seorang wartawati di rumahnya di Depok. Kasus ini menarik karena wartawati ini
hidup sendiri dan pembunuh tidak membuatnya seperti kematian yang alami. Membunuh
dengan mengikat korban dan menghasilkan banyak darah hanya akan membuat publik
dan polisi mengendus untuk mengusut. Saya penasaran adakah motif lain mengingat
perempuan yang tewas berprofesi sebagai wartawan yang meliput berita, atau ini
hanya kejahatan dengan motif amarah, dendam, ya seperti yang selalu menjadi
motif di kasus kriminal lainnya.
3.
Kasus
di tolikara, Papua. Bentrok antara umat Muslim yang hendak melaksanakan sholat
dengan umat Kristen yang mengadakan KKR. Kasus ini aneh. Indonesia termasuk
negara yang majemuk. Semua ras dan agama ada. Perbedaan sebesar apapun harusnya
memiliki jembatan. Tapi, kembali pada Papua sendiri yang ribut akan freeport
dan kurangnya arus modernisasi di sana, mungkin kita belum benar-benar berubah
dari orang-orang primitif di masa lalu.
4.
OC
Kaligis. Pengacara tua bapaknya Velove Vexia menjadi tersangka kasus suap. Satu
hal yang memberi perasaan tidak aman (insecure) di Indonesia adalah begitu
politik berubah, semua politisi dan pihak yang terkait punya kemungkinan yang
sama untuk menghabiskan waktu di balik jeruji besi. Lucunya pengacara tua ini
memiliki 10 orang istri dan sedang menulis buku mengenai 10 orang istri dan 20
orang anaknya. Dia ingin memamerkan hal itu seperti tropi. What?!
5.
Dinasti
Politik Kediri. Baru baca hari ini dan mengejutkan. Setelah dinasti Atut
berakhir, tidak serta merta praktik dinasti politik di Indonesia runtuh. Di
Pekanbaru, kota tempat tinggal saya, mantan istri gubernur mencalonkan diri
menjadi walikota. Ayah istri gubernur ini adalah bupati. Mungkin hobi politisi
di daerah untuk membangun dinasti. Kembali pada dinasti politik di Kediri,
bedanya istri dari eks Bupati yang berebut tampuk kekuasaan. Tahun 2010, istri
pertama vs istri kedua. Tahun 2015, istri pertama vs istri ketiga. Siapa pun
yang menang di antara kedua orang itu, si eks bupati tetap akan dipanggil BAPAK
BUPATI, bukan? Saya baru sadar politik ini sangat menarik. Rasanya tidak sabar
melihat hasilnya, siapa yang memenangkan pilkada. Lantas apa dampak lanjutan
dari hasil kemenangan tersebut? Saya lebih ingin calon lain yang independen
yang memang, untuk melihat bisakah KPK menjerat mereka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar